Showing posts with label Gatot Soemantri. Show all posts
Showing posts with label Gatot Soemantri. Show all posts

Wednesday, September 12, 2018

Diana Januati Priyatna: Anak Pertama Budi Priyatna





Anak Pertama dari Bapa Budi Priyatna dengan Mamah Nina. Dilahirkan pada tanggal 18 Januari 1983. Sejak kecil telah dekat dan disayangi olèh Mini (Tini Surtiningsih), Kaka Perempuan Ke-2 Budi Priyatna, Anak Perempuan Ke-2 Soemantri Dendadimadja. Terlihat di dalam foto ini, Diana kecil melihat ke arah Telaga, pada saat keluarganya menatap kamèra. Bapa Budi Priyatna mengenakan baju berwarna kuning, Mini (Tini Surtiningsih) mengenakan pakaian bermotif kotak-kotak warna hijau, Mang Gatot Soemantri mengenakan kaos berwarna hijau yang mana postur tubuhnya paling tinggi di antara semua yang ada di dalam foto, Atih mengenakan pakaian berwarna putih-putih, Ibu Ai Ratmah mengenakan kebaya di sebelah Mang Gatot, dan di depan Ibu Ai adalah Bi Nunung (Bi Enung), istri Mang Gatot. Penulis berjakèt mèrah berdiri di depan Mang Gatot.

Masa kecil Diana dilaluinya di 3 tempat di Kota Bandung.

Pertama, sejak dilahirkan hingga berusia sekitar 2 taun, berdomisili di Taman Sari, Kota Bandung, bersama Bapa Budi Priyatna, Mamah Nina Yulia, penulis, dan kemudian Irma Apriani Priyatna.

Ke-dua, kemudian pindah, bersama Bapa Budi Priyatna, ke Jalan Nilem II nomer 7, Kota Bandung, ke rumah kediaman Aki Soemantri Dendadimadja, Ibu Ai Ratmah bin Mama Ilyas, beserta Bapa Budi Priyatna, dan beberapa anak-anak Aki Soemantri yang pada saat itu masih pada lajang, di antaranya: Mang Dedy, Mang Yuyu, serta Mini (Tini Surtiningsih). Kepindahan Diana dan Bapa Budi Priyatna ini sehubungan peristiwa perceraian pernikahan antara Bapa Budi Priyatna dengan Mamah Nina Yulia. Di tempat ini, Diana dan penulis diberikan pengajaran mengaji olèh Mini dan Bapa Budi, tanpa secara langsung, yang mana kami dikursuskan kepada Ibu Ining atas biaya dari Mini. Bu Ining adalah seorang Guru Ngaji di Nilem, dan bersama-sama pula dengan murid lainnya, bernama Ichsan Nugraha, sahabat penulis. Kami bertiga rutin belajar ngaji di rumah Bu Ining selepas aktivitas sekolah reguler.

Ke-tiga, beberapa tahun Diana berdomisili di Jalan Nilem, serta bersekolah di sana (Taman Kanak Kanak Delima dan Sekolah Dasar Negeri Nilem IV), kemudian pindah ke Jalan Parakan II A (sekarang Jalan Parakan Wangi), Kota Bandung, sehubungan terjadi musibah kebakaran atas bangunan rumah kediaman Aki Somantri Dendadimadja. Saat itu, Ibu Ai Ratmah telah meninggal, dan Aki beserta Bapa Budi Priyatna hijrah mengungsi ke rumah kediaman Atih (Tien Hertina) di Parakan. Penulis yang pada saat itu juga lagi berada di dalam pengasuhan dan pengasihan keluarga Aki Somantri, dibawa turut hijrah ke tempat Atih, yang pada saat itu hidup bersama 3 orang anaknya dari Papah (Komara Achmad Hidayat): A Novi Ganjar Nugraha (A Ganjar), Tèh Lita Ningrum Yatmikasari (Tèh Nènèng ataupun Tèh Lita) serta Tèh Sylvia Lukitasari (Tèh Ichi), beserta Bi Titing yang membantu pekerjaan-pekerjaan Atih di rumah sehubungan pada saat itu Atih mempunyai beberapa aktivitas bisnis keputrian, seperti: senam dan rias. Dan Irma Apriani Priyatna, Adik Kandung Bilateral Diana Januati Priyatna, telah hadir terlebih dahulu dan diasuh olèh Atih di rumah ini, sebelum penulis dan Diana ikut tinggal di sana. Di tempat kediaman Atih ini, kami bertiga (Diana, Irma, dan penulis) diberikan pengajaran ngaji olèh Mini dan Atih melalui kursus kepada Ustadz Faqih, seorang Guru Ngaji yang kediamannya dekat dengan kediaman Atih. Adapun Atih dan Mini sama-sama membiayai pendidikan kami bertiga.

Memasuki usia Sekolah Menengah Pertama, Diana pindah dari kediaman Atih di Parakan, dan ikut bersama Mini (Tini Surtiningsih) ke kediamannya di Jalan Pasigaran, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupatèn Bandung. Hal ini disebabkan pada saat itu Atih beserta anak-anaknya hijrah ke Kota Bekasi, dan Mini mèmang tiada mempunyai anak, sehingga leluasa guna mengasuh dan mengarahkan pendidikan dari beberapa orang suannya, termasuk Diana dan penulis (kami dimajajikannya sebagai anak).

Adapun Bapa Budi yang pada saat itu belum berkehendak menikah lagi setelah perceraiannya dengan Mamah Nina, pindah kembali bersama Aki Soemantri ke rumah lamanya di Jalan Nilem yang telah dipugar kembali. Jadi, seperti juga penulis, Diana tiada ikut dengan para orang tua kandungnya, baik Ibu Kandungnya (Nina Yulia), maupun Ayah Kandungnya (Bapa Budi Priyatna). Sedangkan Irma, ikut dengan Atih, hijrah mendekati Ibukota.

Diana melanjutkan bersekolah di SMP Negeri 34 Bandung, di Jalan Waas (dekat Parakan, kini menjadi pintu masuk ke Perumahan Batu Nunggal) yang mana setiap hari-hari belajarnya harus berangkat pulang-pergi menempuh jarak yang cukup jauh, dari Dayeuhkolot ke Bandung (meskipun secara lokasi Dayeuhkolot adalah kecamatan yang termasuk Kabupatèn Bandung, namun pada umumnya orang-orang mèmbèdakannya dengan Kota Bandung). Biaya pendidikannya ditanggung olèh Mini (Tini Surtiningsih) dan Bapa Budi Priyatna.

Selepas SMP, Diana melanjutkan pendidikan formalnya di SMA 21 Bandung, daèrah Ciwastra, Jalan Rancasawo. Sama seperti masa SMPnya, setiap hari-hari belajanya ditempuh dengan perjalanan bolak-balik yang cukup jauh dari Dayeuhkolot ke Ciwastra menggunakan Angkutan Kota (Angkot).

Dalam usia SMAnya ini, Diana pernah mengalami kecelakaan, jatuh pada saat belajar mengendarai sepeda motor. Terjadi kerusakan struktur pada tulang rahang bawahnya sehingga memerlukan perawatan dari layanan Rumah Sakit secara intensif.

Uniknya, saat ini Diana bekerja di perusahaan pembiayaan (kendaraan bermotor), setelah sebelumnya pernah mempunyai pengalaman bekerja di perusahaan penyedia layanan perparkiran, dengan keahlian yang sejalan dengan pendidikan Diplomanya dalam bidang Manajemen Informatika, yang ditempuhnya di Politeknik Piksi Ganesha, Bandung pada Program Diploma III. Tuntas ditempuh dengan menyusun Tugas Akhir bertèmakan Sistem Absènsi Karyawan.

Sejauh yang penulis ketahui, Diana sempat mempunyai kedekatan hubungan dengan beberapa teman laki-lakinya pada waktu yang berbèda-bèda. Dengan Eri, pada saat  merèka menjalani studi Diplomanya, sering belajar dan menyelesaikan tugas secara bersama-sama. Dengan Arlin, yabg merupakan teman sepekerjaannya, pada saat Diana pertama kali bekerja setelah lulus kuliahnya, yaitu bertugas kerja absèn di PT. SUN PARKING, Kota Bandung. Lalu setelah pindah bekerja di Jakarta, Diana akrab dengan Steven (Steven Victor Imanuel), dan dengan laki-laki inilah kemudian Diana menjalani rumah tangga.

Pada saat akan menikah dengan Steven, Diana dan Steven mengalami kesulitan secara administrasi dalam negeri sehubungan merèka berdua tercatat berbèda Agama, Diana sejak kecil beragama Islam, sedangkan Steven beragama Protèstan. Salahsatu di antaranya harus ikut kepada agama yang dianut olèh pasangannya. Hasil rembukan merèka, Diana yang akan ikut kepada Agana Protèstan yang lagi dianut olèh Stèven. Dalam kara ini penulis sempat protès, dan komunikasi di antara penulis dengan Diana sempat menjadi kurang akrab. Diana dan Steven menikah. Namun setelah belajar memahami hakèkat ketuhanan melalui praktèk dzikir, penulis memahami yang dimaksud dengan Irodat Alloh, suatu taqdir. Maka akhirnya fanatismeu penulis ditariknya ke dalam diri, bukan formalitas di permukaan syariat saja. Kamipun akrab kembali, dan saling menyayangi serta menghargai.

Saat ini Diana berdomisili di Jakarta. Tinggal bersama Steven dan Fabrizio Rafaèl (keponakan penulis), serta Mamah Nina Yulia (Ibu Kandung penulis dan Diana). Merèka berdua (Diana dan Steven), sama-sama bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang pembiayaan pembelian kendaraan bermotor ('lising'). Diana bekerja absèn di PT. ANDALAN FINANCE, sedangkan Steven bekerja sebagai lègal officer di 'lising' lainnya.


PILIHAN SELANJUTNYA:

1. Kembali ke Bapa Budi Priyatna.

___
Suntingan-1: 19/09/2018: menautkan LINK: Ichsan Nugraha, sebagai instrumèn.

Sunday, September 2, 2018

Budi Priyatna : The First Son Lives of Soemantri Dendadimadja


[Dalam foto: Bapa Budi (In the photograph: Father Budi)].

Ditulis berdasarkan obrolan pada Hari Senin, 30 Agustus 2018, Dayeuhkolot, saat langit reu'euk.

Wroten based on communication in Thursday, August 30th 2018, Dayeuhkolot, when the sky was greying cloud.



\\:'Ieu foto Bapa, makè kameja beureum ti Aki'.

\\:"This is my photograph, wear the red shirt a gift from Grand Father".


//:'ari nu rambutna gondrong saha?'.

//:"who is the man long haired?".


[Dalam Foto: Mang Gatot. (In the photograph: Uncle Gatot)].


\\:'Mang Gatot èta mah'.

\\:"That was Uncle Gatot".


//:'ari Mang Yuyu?'.

//:"how about Uncle Yuyu?'.


\\:'Mang Yuyu sudah tida di Nilem. Jika tida ikut dengan Atih dan Kang Unang, mungkin di Tasik, SMPU nambal jalan (proyèk). Mang Dedy di Cijagra (Parakan)'.

\\:"Uncle Yuyu was not at Nilem anymore. If he didn't follow to Atih and Old Brother Unang, might be at Tasik, SMPU covering the hole in the street (project). Uncle Dedy at Cijagra (Parakan)".


\\:'Mang Yuyu balik ka Bandung, cicing di Babakan Wates. Di nilem; Aki, Ibu, Bapa jeung Uwa Èma. Wa Tika meninggal pas Bapa keur 4 taun, Mang Yuyu 3 taun, Mang Dedy keur dipapangku, Mang Gatot acan lahir'.

\\:"Uncle Yuyu went back to Bandung, stayed at Babakan Wates. At Nilem; Grand Father, Mother,me, and Aunt Èma. Aunt Tika was die when I was 4 years old, Uncle Dedy was still huging up, Uncle Gatot wasn't yet born".





Kini Bapa sering merasa kedinginan jika di beranda, apalagi jika lagi hujan.

Present Father often getting cold if stay on the margin of the house building, and more over if raining.


//: 'ari pangalaman kasehatan kumaha?'.

//:'how about healthy experiences?'.


:\\'Pernah ogè mangsa keur masih sakola, 2 poè ka cai gè ngorondang, sabab bitis pecah ototna. Pecah di dalam; si daging renggang, aya gajihna, ti gajih kana daging misah. Kajadianna pas lagi olah raga di sakola. Kajadian ieu babarengan jeung Endang Bolèd, sahandapeun ngan awakna gedè manèhna mah'.



:\\"It was ever got when I still study in school, 2 days if go to the toilet I had to crawled, its 'cause my calf's biseps foot were broken. Innery broken; the met had a distance, there were creases, from the crease to the met were divorce. That event was at the same time with Endang Boled, younger than me, but his body was bigger he was".

:\\'Pernah ogè dirawat sebab kalèob. Pan baheula mah tèko tèh tina sèng, disimpen dina bangku. Bapa budak leutik kènèh leumpang mapay-mapay, kasèblok wèh awak'.

:\\"And I also ever got maintenance 'cause hot water. You know in the past time the tèko was made from zinc material, puted on the banco. I was a kid when I walk slowly on it, the hot water drop to my body".


://'ari nu di Bogor saha?'.

://'who was in Bogor City?'.


:\\'Di Bogor; Aki Iyus jeung Ma Upu, adina Aki, teu boga anak. Wa Èma sakola di ditu, dibaturan ku Uwa Tati, jeung Uu (Ibunya Aki) ogè. Daerah Jl. Bodongan (ayeuna Jalan Pahlawan), Perumahan Pertani, depan Perumahan Polisi dan di belakang Rumah Sakit Bersalin Melania (RS Bersalin Korban Laki-laki). Sebelum Aki, Aki Iyus jeung Ma Upu sudah meninggal, taun 80-an. Nu dines di Perhutani: Aki Iyus. Ma Upu adi saindung sabapa jeung Aki'.

:\\"In Bogor City; Grand Father Iyus and Grand Mother Upu, the young sister of Grand Father, hasn't any child. Aunt Ema got school there, accompanied by Aunt Tati, and also Uu (the mother of Grand Father). In the area of Bodongan Street (at present Pahlawan Street), Pertani's Housing Complex, in front of The Police's Housing Complex and bacwardest Melania's Birth Hospitals (A hospital for The Victims of Man). Before Grand Father, Grand Father Iyus and Grand Mother Upu was die, amouñg the years of 80. A person whom got duty in Perhutani was Grand Father Iyus. Grand Mother Upu is a young sister who has one same mother and also one same father with Grand Father".


://'urang mana Aki aslina?'.

://'where was the origin's Grand Father came from?'.


:\\'Bapana Aki orang Ujung Berung, Cinambo, ibuna Aki orang Garut'.

:\\"The Grand Father's Father was Oejoeng Beroung's people, The Mother of Grand Father was from Garut City".

:\\'Ibu Ai turunan Pekalongan, anak ka-2 ti Mama Ilyas. Mama Ilyas lahir taun 1900, bungsu, lanceuknya 9. Makam kaka kakana di Sukajadi. 1880-an ogè aya.
Lamun nu cikal 1780 kaharti teu ku kamu?'.


:\\"Mother `Ai is Pekalongan's down line of her genetical, a 2nd child of The Father of Grand Father Ilyas. The Father of Grand Father Ilyas was born in 1900, he was the last child who has had 9 persons older of brother and sister. The grove of his older brother and sister at Sukajadi. There was also an old brother or sister who was born amoung 1880. (How) if the first older was born in 1780 can you understand?".

:\\'Tah lamun indungna Aki, lahirna 7 taun setelah Krakatau 1883. Jadi 1890, nya?'.

:\\"Here if The Mother of Grand Father, she was born 7 years after Krakatau in 1883. That's equal with 1890, wasn't?".


://'Enya'.

://"Yes it was".


:\\'Maotna Buyut Salèh taun 1927 dalam usia 77 taun. Berarti lahirnya perkiraan taun lahir 1850. Kalau punya anaknya taun 1880?'.

:\\"The Grand Father of Grand Father Saleh was die in the year of 1927 in the age 77 years old. This mean aproximately he was born in the year of 1850. If he has had a child in the year of 1880?".


://'kaharti kènèh'.

://'still in understandable'.


:\\'Euweuh nu nganyahokeun lahirna taun sabaraha waè, ngan maotna wèh wungkul'.

:\\"There were no one knew nor told us the years time borning of them all, there were only their years time of death".

:\\'Bapana Aki jeung Bapana Ibu, kolot kènèh Bapana Ibu. Nama Gang Saleh, diambil dari nama Akinya Ibu. Tokoh masyarakat'.

:\\"(Between) The Father of Grand Father and The Father of Grand Mother, The Father of Grand Mother was elder. The name of Gang Saleh, being taking from the name of Grand Father of Grand Mother's name. He (Saleh) was a figure in his society's living place".
---
Sungguh aku merasa terkejut atas beberapa keterangan Bapa mengenai sejarah leluhur matrilinèalnya. Sebab taun-taun yang disebutkannya mengingatkanku pada sejarah Tarèkat Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah, yang mana pada taun 1850 Tarèkat ini didirikan setelah difusikan, lalu paska Gunung Krakatau meletus terjadi pemberontakan kaum tarèkat di Banten, yang mana kini di Banten juga masih lagi berdiam seorang cucu Bapa: Muthia M. Tiada sesuatu yang kebetulan.

Surely I feel wire to a few data of Father about his up line mothernalic's history. 'Cause the years those said by him remind me to the history of Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah, which ever in the year of 1850 this religious brotherhood communities was built up after been mergered in one thoriqoh, and after the broke of Krakatau Mountain there was foughter of thoriqoh's peoples in Banten, which today in Banten staying a Grand Daughter of Father: Muthia M. There is no an unintended event.
----

Suntingan-1: 12/09/2018: menambahkan PILIHAN SELANJUTNYA:

1. Lihat Anak Pertama Bapa Budi Priyatna: Diana Januari Priyatna.

2. Lihat Anak Ke-2 Bapa Budi Priyatna: Irma Apriani Priyatna.

2. Kembali ke Halaman Aki Soemantri Dendadimadja.